Rabu, 12 September 2007

Khutbah Rasulallah SAW Menjelang Ramadhan :

Dari Salman al-Farisi ra. ia berkata bahwa Rasulullah
SAW di akhir bulan Sya ban berkhutbah kepada kami,
beliau bersabda, "Wahai manusia, telah datang kepada
kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya
terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya
lebih baik dari 1. 000 bulan. Alloh menjadikan puasa
pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan
menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah
(tathawwu`). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan
diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia
seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan
yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan
wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan
yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan
kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan
tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang
Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan
itu) memberikan bukaan (ifthar) kepada seorang yang
berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan)
atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan
ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu,
tanpa menguarai pahala orang yang berpuasa (itu)
sedikitpun." Kemudian para Sahabat berkata, "Wahai
Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan
untuk diberikan sebagai bukaan orang yang berpuasa."
Rasulullah SAW berkata, " Allah memberikan pahala
tersebut kepada orang yang memberikan bukaan dari
sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu.
Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat,
pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya
pembebasan dari api neraka." (HR Baihaqi)

Khutbah Nabi SAW yang diriwayatkan dari seorang
Sahabat mulia, Salman al-Farisi di atas mengandung
(secara implisit) beberapa stimulan dalam menyongsong
bulan Ramadhan. Nabi SAW dalam khutbahnya tersebut
menginginkan agar umat Islam benar benar memahami
kualitas tamu agung yang akan mendatangi umat Islam
ini. Stimulan dalam khutbah di atas dapat dijabarkan
dalam beberapa poin:

Pertama, bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung
dan penuh keberkahan. Keagungan dan keberkahan bulan
ini dapat dilihat dari penghormatan Allah terhadapnya.
Allah menurunkan Al-Qur'an di dalamnya. Selain itu,
ada sebuah fenomena yang cukup berbeda jika
dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya, di mana
hati setiap Mukmin tergerak untuk bersedekah lebih
banyak, membaca Al-Qur'an lebih getol, dan
qiyamullail. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ramadhan
merupakan 'musim seminya' Al-Qur'an. Lebih dari itu
semua, keagungan dan keberkahan Ramadhan karena
memiliki satu malam yang nilai ibadah di dalamnya
lebih baik dari 1.000 bulan, yakni malam Laitul Qadar.
Hal ini secara gamblang dijelaskan oleh Allah SWT:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada
malam Laitul Qadar. Tahukah kalian apa Lailatul Qadar
itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat
Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala
urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbitnya
fajar." (Qs. Al-Qadr [97]: 1-5). Sungguh, malam
Lailatul Qadar itu merupakan bonus ibadah bagi setiap
Mukmin. Secara matematis, 1.000 bulan itu sekitar 84
tahun. Padahal umur manusia (umat Islam) jarang yang
mencapai angka itu. Tapi, jika ibadah pada malam
Lailatul Qadar itu benar-benar (dilakukan) karena
mengharap ridha Allah, maka nilainya lebih baik dari
ibadah yang dilakukan selama 1.000 bulan. Oleh karena
itu, Nabi SAW memberikan contoh bagaimana agar setiap
Muslim bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh akhir
Ramadhan. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah
ra. beliau bersabda, "Carilah malam Lailatul Qadar itu
pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan
Ramadhan." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam bab
keutamaan 'Lailatul Qadar'/ 2020). Oleh karenanya,
beliau menganjurkan agar setiap Mukmin yang berpuasa
dapat menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh
keimanan dan keikhlasan (perhitungan) , " barangsiapa
yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan
penuhkeimanan dan keikhlasan (perhitungan) , maka
dosanya yang telah lalu diampuni."(Dikeluarkan oleh
Imam Bukhari dalam bab keutamaan Lailatul Qadar/
2014).

Kedua, pelipatgandaan pahala kebaikan. Ramadhan
merupakan bulan yang menjadikan nilai seorang hamba
berlipat-lipat. Pahala sunnah dinilai sebagai pahala
amal yang wajib, yang dikerjakan pada bulan lain.
Bahkan, satu kebaikan dibalas dengan 70 kebaikan. Luar
biasa!

Ketiga, bulan kesabaran. Proses imsak yang dilakukan
bagi setiap orang yang puasa, mulai terbit fajar
hingga terbenam matahari merupakan sebuah proses
pembentukan karakter sabar. Satu perbuatan yang sangat
dicintai oleh Allah SWT. Pada bulan inilah setiap
Mukmin yang berpuasa digembleng untuk menjadi seorang
yang ulet dan tahan uji. Sehingga Nabi SAW menyatakan
bahwa balasan sabar adalah surga. Hal ini sangat
parallel dengan firman Allah: "Jadikanlah sabar dan
shalat itu sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah
bersama orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Baqarah [2]:
153).

Keempat, Ramadhan merupakan bulan 'semangat sosial'.
Seorang yang melakukan puasa merupakan orang yang
memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Empati mereka
benar-benar tampak nyata. Tidak dapat dipungkiri bahwa
kegiatan bersedekah dan berderma padabulan Ramadhan
sangat fenomenal. Maka tidak heran, jika sejak awal
puasa, para ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah.
Ini merupakan bentuk konkret dari 'kepekaan sosial'.
Karena ternyata, seorang Mukmin yang berpuasa diajak
langsung praktek merasakan lapar dan dahaga,
sebagaimana yang dirasakan oleh para fakir-miskin.
Bahkan, orang yang memberikan bukaan kepada orang yang
berpuasa akan menjadi ampunan dosa, dibebaskan dari
api neraka dan memperoleh pahala seperti pahala orang
yang melakukan puasa itu sendiri. Lebih untung lagi,
ternyata pahala yang berpuasa itu tidak berkurang
sedikitpun.

Kelima, Ramadhan memiliki tiga bagian penting:
rahmat, ampunan (maghfirah) dan pembebasan dari api
neraka. Tentunya, untuk memperoleh ketiga substansi
puasa tersebut, seorang Mukmin harus benar-benar
memurnikan niat dan membulatkan ikhtiarnya: untuk
mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah.
Dengan demikian, seorang Mukmin tidak bisa bertindak
pragmatis: memilah dan memilih bagian dari ketiga
substansi tersebut. Ia harus dilalui secara berurutan.
Dengan demikian, pembebasan dari api neraka tidak akan
tercapai, sebelum diperolah maghfirah Allah SWT. Dan
maghfirah ini tidak akan direngkuh, sebelum
mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah SWT. Ketiga
subtansi itu tidak bisa dipisahkan, karena puasa
merupakan hak prerogatif Allah, "Setiap amalan Anak
Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah
milik-Ku dan aku (sendiri) yang akan membalasnya."
(Hadits Qudsi. Hadits Qudsi
ini diriwayatkan dari Abdullah ibn Muhammad, dari
Hisyam, dari Ma`mar, dari az-ZuhrĂ®, dari Ibnu
al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW).

Khutbah Nabi SAW adalah khutbah yang ditujukan kepada
kita. Seolah-olah beliau berdiri di hadapan kita:
memberikan tuntunan dalam menyambut sang tamu agung.
Kita berharap khutbah beliau menjadi pedoman komplit
sebelum 'sang tamu agung' datang kehadapan kita.
Dengan demikian, lahir dan batin kita telah siap
menerima kehadirannya.

Wallahu a`lamu bi as-shawab!

4 komentar:

Projetores mengatakan...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Projetores, I hope you enjoy. The address is http://projetor-brasil.blogspot.com. A hug.

mujahidah_syahidah mengatakan...

assalamua'alaikum
setelah membaca blog ini subahanllah
rasa nya jadi ingin cepat2
menyambut sang "tamu agung"

rya mengatakan...

boleh ya tak masukin buletin di FS Quw ...
jazakaLlah

Hamzah Bachmid mengatakan...

Saya membaca dalam buku Sifat puasa Nabi karangan Syaikh Salim Al hilali & Syaik Ali Hasan halaman 209-210 penerbit al Mubarok bahwa hadist tersebut di riwayatkan oleh Ibnu Kuzaimah No. 1887 dari jalan Ali bi Zaid Jad'an dari Said bin AlMusayyib dari Salman RA, Berkata para ahli hadits Imam Hambali, berkata hadist tidak kuat karena ada rawi Ali bin Zaid & Ibnu khizaimah berkata setelah meriwayatkan hadist ini : "Jika benar khabarnya "