Rabu, 05 September 2007

Pelajaran dari cangkir cantik

Teman pernahkan kita berfikir akan proses yang dialami sebuah cangkir cantik sehingga ia begitu berharga saat diperdagangkan?????Bacalah kisah dibawah ini dan renungkanlah!!

Begini ceritanya………………….
Sepasang kakek-nenek pergi ke sebuah toko sovenir untuk membeli hadiah. Lalu mata mereka tertuju pada sebuah cangkir cantik . “ Lihat cangkir cantik itu,“ kata si nenek. “ Kau benar , itu cangkir tecantik yang pernah aku lihat,“ ujar si kakek. Saat mereka mendekat, tiba-tiba cangkir tersebut berbicara. “ Terima kasih atas perhatiannya. Kalian tahu bahwa aku dulu tidak secantik ini, dahulu aku hanyalah tanah liat yang kotor. Namun, ada seorang pengrajin dengan tangan kotornya melempar aku ke sebuah roda berputar.
Kemudian ia mulai memutar-mutar hingga aku merasa pusing. Stop!Stop!Aku berteriak, tapi orang itu berkata,”Belum!” Lalu ia mulai memukulku berulang-ulang. Stop!Stop!Teriakku lagi. Tapi ia terus saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Setelah itu, ia memasukka aku ke dalam perapian. Panas!Panas! Teriakku dengan keras. Stop!Cukup!Teriakku lagi. Tapi ia berkata,”Belum!!!’Akhirnya ia mengangkatku dari perapian dan membiarkanku dingin. Aku berpikir akhirnya selesai sudah penderitaanku.
Oh, ternyata belum. Setelah itu, ia memberikanku kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnaiku. Asapnya begitu memualkan. Stop!Stop!Aku berteriak. Ia berkata,”Belum!”Lalu ia memberikanku kepada seorang pria dan ia kembali memasukkan aku ke dalam perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong!Hentikan penyiksaan ini!. Tapi ia tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Aku terus merintih, sedih, berteriak. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita mengankatku dan meletakkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku sebuah cangkir yang cantik. Semua kesakitan dan penderitaan yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku sekarang.

Teman…….seperti itulah Allah SWT membentuk kita. Pada saat pembentukan itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata yang keluar dari mata kita, sering kita mengeluh, marah , bahkan ber-suudzon kepadaNya.Tetapi, itulah cara mengubah kita agar menjadi “cantik” dan memancarkan kemulianNya.
Teman………..anggaplah sebuah kebahagiaan apabila kamu jatuh kedalam berbagai cobaan, memang sulit, tapi cobalah, sebab ujian menghasilkan ketekunan. Dan biarkan ketekunan itu memperoleh buah yang matang agar sempurna,utuh, dan tak kekurangan suatu apapun.
Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah SWT sedang membentuk anda. Prosesnya memang menyakitkan, tetapi jika semua proses itu telah selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Allah SWT membentuk anda.
.

Saat Hati Telah Mati

Suatu kali, saya mendengar seorang teman baik saya menceritakan
pengalamannya. Mengenai obrolannya dengan seorang supir taksi. Si supir rupanya
baru pertama kali menjalani pekerjaan sebagai seorang supir taksi. Sebelumnya ia
pernah bekerja di sebuah perusahaan negara, dan memiliki penghasilan yang lebih
dari cukup. Maka, teman saya pun merasa heran. Mengapa kini ia memilih
berprofesi sebagai supir taksi.
"Habis, saya dipecat dari perusahaan itu, neng"
"Wah, kenapa tuh, bang? Kok bisa dipecat? Apa karena efisiensi karyawan ya?"
"Oh, bukan, neng! Saya dipecat gara-gara ketahuan korupsi."
Kontan teman saya terbelalak. Kaget. Supir taksi tersebut mengatakannya sambil
terkekeh-kekeh. Tak terlihat ada rasa malu atau penyesalan dari raut wajahnya.
Begitu cerita teman saya.
"Terus, keluarga di rumah gimana, bang?" Teman saya pun bertanya kembali, masih
dengan perasaan bingung.
"Oh, ... ya nggak apa-apa, neng. Biar dipecat juga, kan saya udah punya rumah.
Ya, hasil korupsi itu tadi. Ya, udah puas lah saya. He he he ..."
Saya yang mendengar cerita itu, ikut bingung ingin berekspresi seperti apa.
Ingin tertawa, sebab kok ya ada orang yang sudah berbuat salah tetapi malah
bangga dengan kesalahannya. Merasa kesal, kalau saja saya yang mendengar
langsung cerita itu, mungkin si supir sudah saya ceramahi habis-habisan. Pun
kasihan, dengan seseorang yang tak lagi bisa membedakan perbuatan baik dan
buruk. Atau sebenarnya ia bisa membedakan dan tahu jelas sanksi yang menjadi
konsekuensinya, tetapi ia telah demikian tergiur hingga tak lagi peduli sebab
harta sudah di tangan.
Sejenak kemudian saya membayangkan, apa jadinya bila hal itu menimpa diri saya.
Bila nikmat harta itu terpampang di depan diri saya ini, apakah sanggup saya
mempertahankan keimanan untuk tidak sedikit pun menjamahnya? Sebab saya tak
pernah tahu dan seringkali tak menyadari saat hati ini perlahan mulai melemah.
Ketika secara tak sadar, diri saya mulai memaklumi kesalahan-kesalahan kecil
yang saya perbuat. Ketika pelan-pelan kemalasan mulai menarik diri ini dari
kedekatan pada-Nya. Sampai benar-benar jauh, sampai tak lagi bisa merasakan
apa-apa.
Saat hati kita telah mati, maka bisa jadi, seberapa pun usaha kita untuk
melongok, melihat ke dalamnya-ia tak berisi. Untuk setiap kesalahan kecil yang
kita perbuat, untuk tiap detil kemaksiatan yang terlakukan baik sadar maupun
tidak, untuk pemakluman terhadap menumpuknya sudah segala bentuk
kebiasaan-kebiasaan buruk kita, untuk dosa besar sekalipun, bila hati ini telah
mati, maka ia tak lagi bisa memberontak, bahkan untuk sedikit saja tergerak.
Mungkin dalam alam bawah sadar, kita akan bertanya,
Wahai hati, mengapa tak lagi kudapat rasakan kelezatan itu.
Getaran saat diucapkan nama-Nya.
Rasa yang merayap melebihi biasa, ketika kudengar ayat-ayat-Nya.
Atau pedih kala kuingat kembali, betapa penuh dosa diri ini.
Pula sergap rasa takut yang menjelang, sewaktu kusadari kobar neraka tak kan
henti menyala.
Duhai hati, kian kesatkan dirimu kini?
Apakah ini saatnya engkau mati?
Duhai rindu, datanglah kembali ...
Saat itu, setelah teman saya selesai bercerita, saya langsung bergidik. Ngeri,
membayangkan bila itu terjadi pada diri saya. Saat itu, saya bilang padanya,
"Nanti, kalau gue udah mulai 'bandel', elo harus jadi orang pertama yang
ngingetin gue, ya !!!"
DH. Devita
RENUNGKANLAH SAHABAT…………………………………….

........
Sumber : eramuslim

Marahlah secara benar ....


Apa pula ini? Masak marah aja ada aturannya. Emang sih kamu berhak meluapkan amarah, tapi dalam banyak situasi ada batasan-batasannya.

Misalnya, kurang menguntungkan bila kamu marah-marah di depan kelas. Bahkan meskipun kamu merasa benar dan dapat menunjukkan semua bukti dan argumen yang mendukung. Soalnya, orang lain akan cenderung berisikap defensif dan parahnya bisa berkembang pada keinginan balas dendam. Demikian dituturkan Dr. Sandra Thomas, R.N, Ph.D seorang peneliti perihal amarah dan direktur Center for Nursing Research di University of Tennese, Knoxville.

Asal tahu aja, tidak hanya etika sosial budaya menyebabkan kita kudu membatasi rasa marah tapi masalah kesehatan juga ikut berperan. "Ketika marah, tubuh kita mengalami berbagai perubahan fisiologis, karena amarah memicu reaksi melawan atau lari," kata Christopher Peterson, PhD, pengarang Health anda Optimism dan dosen psikologi di University of Michigan, Ann Harbor.

"Kadar adrenalin meningkat, jantung berdegup lebih kencang, napas memburu dan dangkal, pencernaan berhenti," imbuhnya. So, sering marah-marah bisa mengingkatkan reriko pernyakit jantung, tekanan darah tinggi dan penyakit-penyakit mematikan.

Malah dalam penelitian terakhir para dokter di Universitas of North Carolina, mereka menemukan orang yang temperamental (pemarah) memiliki tiga kali resiko terkena penyakit jantung yang akut dan fatal. Hasil ini didapat sewaktu mereka meneliti sebanyak 13 ribu orang di North Carolina selama enam tahun.

"Semua emosi mempunyai pengaruh tertentu kepada cara berpikir kita. Tapi emosi-emosi yang kuat dapat memperlambat kemampuan penalaran, kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan kita," kata Dr. Mara Julius, Sc.D, ahli ilmu epidemi psikososial di Univesity og Michigan School of Public Health yang telah lebih dari 20 tahun mempelajari cara mengatasi marah yang berpengaruh pada kesehatan laki-laki dan perempuan.

"Ketika kamu merasa marah atau terbelenggu oleh dendam, semua itu menjadi beban. Pada sebagian orang , ini memperlambat proses berpikir dan pada sebagian yang lain bakal menghentikan proses berpikir sama sekali," sambungnya.

Cara Marah yang Benar
Bila perasaan marah kamu ditangani secara benar, menurut Dr. Julius, kamu bakal terhindar dari masalah-masalah hubungan sosial dan kesehatan. So, di bawah ini adalah cara marah yang bener.

1. Cari tempat aman.
Carilah tempat "aman" untuk meluapkan marah kamu. Caranya, sebelum kamu ngomong ama orang yang bikin kamu jengkel, bicarakan dulu ama orang yang kamu percaya. Pilih teman dekat, pacar, atau seseorang yang kamu percayai untuk mengungkapkan perasaan marah Anda. Soalnya, kalau kamu nekat nglabrak malah bisa nambah masalah. Dan ujung-ujungnya kamu tambah mangkel, jengkel dll.

2. Dekati orang yang bikin kamu marah
Setelah rasa marah kamu reda, bicaralah pada orang yang menjadi "sumber masalah". Ini penting untuk membuat jernih semua permasalahan. Awali pembicaraan, misalnya dengan, " Tindakan atau perkataan kamu, mengganggu perasaanku. Ada yang kudu diluruskan dan dibicarakan. Apa kita bisa membicarakan ini dengan baik?"

3. Kenali hal-hal yang jadi penyebab kemarahan kamu.
Temukan akar masalah untuk menemukan faktor pemicunya. Pasti ada hal-hal tertentu yang biasanya mendasari reaksi marah kamu. Bila tidak berhasil, mulailah mencatat ketika reaksi-reaksi marah itu timbul dan menulis pengalaman-pengalaman amarah kamu. Cara ini bakal memberikan kamu kesempatan untuk mempelajari segala sesuatunya dan bereaksi lebih rasional. Akhirnya, kamu bakal merasa mampu mengendalikan diri dengan menghentikan konfrontasi langsung.

4. Temukan cara melepaskan diri.
Kalau kamu mudah naik darah, ada anjuran agar menggunakan energi yang meluap-luap itu secara positif. Misalnya menggunakan energi itu untuk kegiatan fisik. Seperti jogging atau olah raga lainnya. Soalnya olahraga menyalurkan adrenalin lebih positif ketimbang membiarakannya larut sendiri. Dan kamu pun dapat menjernihkan pikiran untuk sementara.

5. Atur Nafas
Ketika diselimuti kemarahan, cobalah mengulur waktu untuk menenangkan diri. Kamu bisa pergi sejenak dari situasi tersebut. Carilah tempat sepi dan lakukan semacam meditasi dengan menarik nafas dalam-dalam. Setelah pikiran tenang, baru kamu kemukanan apa yang ingin kamu katakan. (dari berbagai sumber)

---------
percikan-iman.com

Delapan Kado Terindah


Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat,dan tak perlu membeli ! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.

1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.

2. MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang Lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar denganbaik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

3. D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai Untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.

4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, " Kau bebas berbuat semaumu." Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat,berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.

7. KESEDIAAN MENGALAH Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai Menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado " kesediaan mengalah" Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.

8. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

Jagoan-jagoan yang Berbahaya

Sederet bukti bahayanya menyerahkan pengasuhan anak kepada televisi. Pemecahannya?

Bocah 4 tahun bernama Ferhat Altinbas itu bergegas menuju balkon apartemennya. Televisi yang saban hari menemaninya masih menyala, ditinggal begitu saja. Dalam benak terbayang, sebentar lagi akan jadi monster hebat seperti Pikachu yang bisa melayang. Begitu sampai di bibir balkon, tanpa ba..bi..bu.. bocah lelaki ini melompat. Hiyaaaatt!

Hasilnya? Bukan monster yang hebat, tapi Ferhat masuk rumah sakit di Mersin, Turki Selatan. Kakinya patah, beberapa bagian tubuhnya luka cukup parah. Ketika ditanya dokter perihal perbuatannya yang nekad itu, si kecil Ferhat menjawab enteng, "Saya Pokemon, dan saya melayang seperti dia."

Peristiwa yang dilansir harian Radikal Daily Turki edisi 30 Oktober 2000 itu hanyalah salah satu contoh, betapa besar pengaruh tayangan televisi terhadap anak-anak. Ferhat ingin seperti Pikachu, tokoh serial Pokemon (Pocket Monster), idolanya. Pikachu adalah monster kucing imut-imut berwarna kuning yang sakti dan selalu menang dalam pertarungan. "Anak-anak memang banyak meniru tokoh yang dianggapnya sebagai panutan, baik itu orang tua, guru, ustadz, atau tokoh film yang disenanginya," ujar psikolog Elzim Kosyiyati.

Konsekuensinya, kalau tokoh yang dicontoh adalah figur yang baik, niscaya anak-anak akan berlaku baik pula. Begitu pula sebaliknya. Nah, kalau idolanya adalah Pikachu atau Tinky-Winky, perilaku tokoh itulah yang terekam di benak anak-anak. Dan tokoh-tokoh semacam inilah yang sekarang banyak diidolakan.

Ajaran Kekerasan dan Syirik

Di mata anak-anak, tokoh-tokoh dalam Pokemon sama tenarnya dengan Teletubbies. Tayangan animasi dari Jepang ini mulai populer di Indonesia akhir 1990-an, ditandai dengan munculnya barang-barang memakai bentuk Pikachu. Tas punggung, peralatan tulis, sapu tangan, lampu meja, sampai ikat rambut menggunakan tokoh Pikachu. Tak lama kemudian Pokemon menjamur dalam bentuk VCD, dan akhirnya tersaji dalam siaran televisi.

Di negeri asalnya, film ini sempat memicu protes keras. Sebabnya, sebanyak 1523 anak di berbagai kota di Jepang dilaporkan telah terserang mual-mual, muntah, pusing, dan matanya perih akibat nonton Pokemon episode Computer Warrior Porigon (1997). Sebanyak 650 anak di antaranya harus masuk rumah sakit. Menurut analisis medis, itu terjadi akibat pancaran sinar merah menyilaukan selama 650 kali selama 5 detik dari mata tokoh Pikachu. Sinar itu menyebabkan gangguan syaraf dan ritme otak.

Di Inggris juga menimbulkan kontroversi. Dua orang anak berusia 11 tahun tega menodong anak usia 8 tahun demi mendapatkan kartu Pokemon. Persatuan Nasional Guru Inggris menilai tontonan ini menjadi penyulut kekerasan pada anak-anak (Reuters, 4/2000).

Adegan dalam film karangan Satoshi Tajiri ini memang didominasi kekerasan, tema yang tidak sehat bagi perkembangan jiwa anak. "Dalam psikologi pendidikan, tayangan semacam itu dapat merusak citra diri anak yang pada fitrahnya tidak menyukai kekerasan, tapi mendambakan kasih sayang," ujar Elzim Kosyiyati.

Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat. Kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga, dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain. Keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.

Di Amerika Serikat, hal tersebut memang terbukti. Sebuah penelitian yang dilakukan Leonard Eron dan Rowell Huesman menyebutkan, tontonan kekerasan yang dinikmati pada usia 8 tahun akan mendorong tindak kriminalitas pada usia 30 tahun (Kompas, 5/2000).

Sedangkan penelitian yang dilakukan Yale Family Television menyebutkan anak-anak yang menyaksikan program fantasi kekerasan cenderung kurang kooperatif, kurang baik dalam bergaul, kurang gembira, kurang imajinatif, serta angka IQ-nya rendah. Pecandu televisi juga pada umumnya sering gelisah dan memperlihatkan masalah di sekolah.

Ajaran kekerasan tak hanya disosialisasikan Pokemon. Lainnya masih banyak, di antaranya yang ditayangkan RCTI seperti P-Man, Kobo Chan, dan Panji Millenium, juga SCTV seperti Samurai X, Kungfu Kids. Di TPI ada Tazmanian Devil dan Power Rangers in Space, Indosiar menyajikan Power Rangers Turbo, Ultraman, Dragon Ball, Ninja Hattori, dan sebagainya. Termasuk tontonan untuk orang dewasa yang akrab dengan anak-anak seperti Smackdown. Masing-masing mempunyai tokoh utama, dan masing-masing mempunyai penggemar fanatik.

"Ayo, Smack Down!", kata Zulfikri (5 th) pada adiknya, Amar. Kontan saja sang adik terjungkal dengan kepala menyentuh lantai. Amar yang masih berumur 2,5 tahun itu dibanting dengan gaya menirukan acara Smack Down. Tentu saja sang adik berteriak menangis. Menurut ibunya, Siti Aminah (32), Zulfi sudah ketiga kalinya ini membanting sang adik menirukan pertarungan bohong-bohongan yang sering diputar RCTI tersebut. "Ini sudah ketiga kali lho, kalau diulangi lagi saya hukum kamu," kata sang ibu menasehati Zulfi.

Menurut sang ibu, Zulfi kerap menonton acara gulat tersebut di TV tetangga pada hari minggu. "Padahal saya juga nggak punya TV", kata ibunya. Sejak ketiga kali kasus membanting sang adik, Zulfi memang sudah jarang mengulangi 'smack down' pada Amar. Tapi diam-diam, masih sering mempraktekkannya dengan teman sebayanya bila datang bermain ke rumahnya.

Yang lebih berbahaya, tontonan kekerasan kebanyakan bersinergi dengan ajaran syirik dan klenik. Di mata da'i Khairu Ummah Ustadz Ihsan Tandjung, figur-figur Pokemon layaknya representasi dunia jin yang mempengaruhi anak kita. "Fenomena semacam itu adalah perbuatan syirik, dosa besar mempersekutukan Allah Swt yang tak terampuni," ujar mubaligh yang kerap muncul di layar kaca ini.

Ihsan menunjuk beberapa slogan yang kuasa membuat anak 'menuhankan'. Misalnya 'Selamat datang di dunia Pokemon, dunia khusus di mana orang seperti Anda dapat dilatih menjadi Master Pokemon nomor wahid di dunia.' Atau, 'Bawalah Pokemonmu dalam saku dan kau siap untuk apa saja. Kau punya kekuatan dalam genggamanmu, gunakanlah!'

Jangan heran bila Komite Tertinggi Riset Ilmiah dan Hukum Islam Arab Saudi mengeluarkan fatwa haram, Maret lalu. Alasannya, Pokemon telah berubah menjadi 'tuhan' yang membuat anak-anak lupa mengerjakan shalat. Selain itu juga mensosialisasikan Teori Evolusi Darwin, mengusung gambar bintang Daud segi lima yang menjadi simbol zionisme, dan mendorong perjudian. Fatwa haram ini akhirnya juga berlaku di semua negeri Timur Tengah. "Semua produknya, baik VCD maupun asesorisnya, dimusnahkan dan dibakar ramai-ramai," ujar Burhanudin Malik, warga Bogor yang kini tinggal di Kuwait.

Pemerintah Turki juga melarang penayangan film animasi yang pernah memakan korban ini. Begitu pula Amerika Serikat, Inggris, dan Slovakia. Sebuah gereja Kristen di Meksiko bahkan menyebut permainan Pokemon sebagai iblis.

Di negeri yang bernama Indonesia, justru sedang berkibar-kibar. "Saat ini Pokemon dan Doraemon paling laris," tutur Hadi, karyawan Gramedia Matraman, Jakarta. Di toko ini, buku dan komik terjemahan dari Jepang yang didominasi kekerasan dan syirik rata-rata terjual 1.250 buku per hari.

Film dan sinetron berbau klenik juga eksis di televisi. Misalnya Doraemon, Magic Girls, Mak Lampir, Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, Bidadari, dan banyak lagi. "Tayangan yang penuh takhyul dan khurafat leluasa masuk ke dalam pikiran anak-anak kita," ujar Ihsan Tanjung.

Zina dan Durhaka

Berbicara tentang tontonan untuk anak, tentu tak lengkap tanpa menyinggung Crayon Shinchan. Film animasi yang diputar RCTI ini begitu dikenal anak-anak. Ratingnya cukup tinggi, yakni 9 hingga 11. Artinya, ditonton sembilan hingga sebelas persen dari setiap 100 penonton. Namun seperti halnya tayangan lain, efek negatiflah yang lebih mengemuka. "Film itu jorok, tak bagus ditonton anak-anak," ujar Slamet, warga Cibubur yang juga ayah 2 anak.

Mau tahu contohnya? Dalam versi komik volume 1, digambarkan orang tua Shinchan sedang (maaf) menyalurkan hubungan biologis tanpa mengunci pintu kamar. Shinchan yang terbangun mau buang air kecil, tanpa sengaja masuk ke kamar orang tuanya dan melihat adegan itu. "Main gulat diam-diam saja, saya juga mau," kata anak yang konon berusia 5 tahun ini. "Iya, ini main gulat," sang ibu terpaksa membohongi anaknya demi menghindari malu.

Shinchan juga sering berkomentar seputar pantat, dada, dan bahkan kemaluan (diri dan orang lain). Hal-hal semacam itu tersaji sebab sebenarnya Crayon Shinchan memang untuk konsumsi orang dewasa. Pertama kali film animasi karangan Yoshita Usui ini dipublikasikan dalam Shukan Manga Action (Agustus 1992), majalah komik untuk orang dewasa. Namun karena berupa kartun, anak-anak pun akhirnya suka. Orang tua terkecoh. Kenapa? Menurut pengamatan psikolog Seto Mulyadi, orang tua sering keliru menganggap bahwa film kartun hanya untuk konsumsi anak-anak. "Padahal tidak selalu demikian," ujarnya seperti dikutip sebuah mingguan ibukota.

Tontonan televisi untuk orang dewasa namun ditayangkan pada jam anak-anak, cukup banyak. Tayangan ini didominasi oleh sinetron dan telenovela. Karena tersaji di depan mata, anak-anak pun begitu lahap mengkonsumsinya. Tahun lalu Kompas pernah melakukan survei tentang hal ini. Hasilnya, 77% anak suka mengobrolkan acara televisi, 40% di antaranya adalah film orang dewasa yang menyajikan kekerasan, intrik rumah tangga, serta pelecehan seksual.

Pada kesempatan lain, survei membuktikan bahwa anak-anak dalam seminggu menghabiskan waktunya sekitar 68 jam untuk menonton televisi. Padahal program anak yang tersedia di televisi hanya 32 jam. Artinya, setiap anak Indonesia menghabiskan waktu 36 jam untuk menonton tayangan televisi yang dipersembahkan bagi orang dewasa.

Shinchan tak hanya mengajarkan pornografi, tapi juga kebandelan dan berani kepada orang tua. Tujuh tahun lalu, ibu-ibu rumah tangga di Jepang ramai-ramai protes. Alasannya, di samping tolol dan menjengkelkan, Shinchan juga sering menjadikan ibunya sebagai sasaran kebandelan. Dia tak segan menyebut ibunya dengan istilah 'nenek kejam' atau melecehkannya dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan anak-anak kepada orang tua. Misalnya, "Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit ikan hiu."

Kendali Orang Tua

Psikolog Jane Healey dalam buku Endangered Minds secara tegas mengatakan bahwa televisi adalah perusak pikiran anak-anak. Sementara Mary Winn menyamakan televisi dengan obat bius dan alkohol yang bisa menyebabkan orang ketagihan. Neil Postman, profesor psikologi dari Universitas New York, dalam Amusing Ourselves to Death membuat pernyataan lebih ekstrim, yakni kecanduan itu akan berujung pada kematian.

Bila kita merujuk pada berbagai kasus yang ada, pernyataan di atas tak salah. Namun, begitu burukkah tayangan televisi untuk anak-anak? Tentu saja tidak. Banyak yang cukup baik. Menurut pengamatan Elzim Kosyiyati, film seperti Teletubbies, di samping mengusung nilai negatif, sebenarnya mampu membimbing anak dalam hal pengenalan warna, menghitung, dan menyayangi alam.

Elzim juga menunjuk sinetron Keluarga Cemara sebagai tayangan yang mendidik. "Anak-anak diajak melihat realitas, kerja keras, menghormati orang tua, dan kasih sayang di antara anggota keluarga. Fitrah anak-anak memang kasih sayang," ujarnya.

Bagaimana dengan berbagai pengaruh negatif di atas? Ibu dua anak ini mengajak orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam menonton. Televisi adalah realitas sehari-hari anak masa kini, sehingga tak mungkin anak-anak dilarang agar tidak menonton sama sekali. Yang perlu dilakukan adalah memberi penjelasan tentang berbagai adegan yang tersaji di layar kaca. "Beri pengarahan saat itu juga, jangan tunda-tunda sampai hari esok. Apa yang dilihat anak-anak akan sangat melekat dalam pikirannya."

Tips untuk menghadapi teve

Majalah Intisari menurunkan tips untuk menjaga anak dari pengaruh buruk televisi. Pertama, sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya, di kala lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton televisi. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin artinya orang tua bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh anak akan tahu ada banyak cara beraktivitas selain menonton televisi.

Kedua, usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat, berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga. Sebenarnya, anak-anak secara umum senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun bersama orang tuanya.

Ketiga, mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara yang ditonton. Tujuannya, agar anak menjadikan kegiatan menonton televisi hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Ia menonton hanya bila perlu. Untuk itu video kaset bisa berguna, rekam acara yang disukai lalu tonton kembali bersama-sama pada saat yang sudah ditentukan. Cara ini akan membatasi, karena anak hanya menyaksikan apa yang ada di rekaman itu.

Keempat, cermati jenis program yang ditonton. Ini penting, sebab menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena memberi pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau adegan seperti pacaran, rayuan yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia anak dan kedewasaan mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang menonton dengan anak-anak tiba-tiba nyelonong adegan 'saru'. Masalah bahasa memang perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk ditiru.

Kelima, waktu. Kapan dan berapa lama anak boleh menonton televisi, semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari. Anak yang sudah bersekolah harus dibatasi, misalnya hanya boleh menonton setelah mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut Jane Murphy dan Karen Tucker produser acara TV anak-anak dan penulis sebaiknya tidak lebih dari dua jam sehari, itu termasuk main komputer dan video game. Untuk anak yang belum bersekolah atau sering ditinggal orang tuanya di rumah, porsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak.

Sekalipun anak-anak cuma berjumlah 16% dari populasi dunia, tapi mereka adalah 100% pemimpin masa depan.

Keberartian Diri

eramuslim - Pernahkah engkau memperhatikan orang-orang di sekelilingmu saat berada di terminal? Di stasiun? Di mal? Di kereta? Di bis? Yang pasti aku sering melakukannya. Entah mengapa, aku tak tahu. Di tempat-tempat umum. Di mana banyak orang berlalu lalang dan berkumpul. Memandangi. Menatapi.
Seperti hari itu. Gerbong KRL Bogor-Jakarta suatu siang tidak terlalu sesak, namun tidak juga bisa dibilang kosong. Aku iseng mengedarkan pandang ke sekeliling, memandangi para penumpang lainnya, memandangi para pedagang asongan yang mondar-mandir. Tak satu pun yang kukenal. Dan tentu saja, tak ada satu pun di antara mereka yang istimewa dalam pandangan mataku. Meskipun mungkin di antara mereka ada yang sangat saleh atau sangat zalim. Meskipun di antara mereka ada yang sedang bersedih atau malah berbahagia. Meskipun di antara mereka ada yang baik atau jahat. Tak ada yang menumbuhkan perasaan tertentu kecuali kesan sekilas: tindak-tanduk dan penampilan fisik mereka. Itu saja. Tak lebih. Tak kurang.
Pun demikian halnya denganku. Pastilah, bagi mereka aku bukan siapa-siapa. Bahwa misalnya aku seorang yang berprestasi, itu tak akan berarti apa-apa bagi mereka. Bahwa misalnya aku adalah seorang yang baik hati juga tak akan menumbuhkan salut pada mereka. Bahwa misalnya aku tengah bersedih atau bermasalah, mereka juga tak akan peduli. Memangnya siapa aku? Kehadiranku hanyalah selintas saja. Sesosok tubuh bernyawa yang dijuluki manusia yang kebetulan saja hadir di sana. Berada dalam satu tempat bersama mereka. Tak lebih. Tak kurang.
Saat-saat seperti itu sering membuatku berpikir tentang keberadaan diri. Diriku. Dan kemudian bertanya-tanya dalam hati: Siapakah aku bagi mereka? Dan siapakah mereka bagi saya? Dan jawabnya: I'm nobody. Aku bukan siapa-siapa bagi mereka. Dan mereka juga bukan siapa-siapa bagiku. Aku, siapa pun aku dan apapun yang telah kulakukan, tidaklah memiliki arti apapun bagi mereka. Karena mereka tidak mengenalku.
Tapi tidak demikian halnya diriku bagi beberapa orang tertentu yang dihadirkan Allah menjadi orang-orang dekatku. Keluargaku, kerabatku, sahabat-sahabatku, teman kerjaku, tetanggaku. Orang-orang yang aku berinteraksi dengan mereka. Orang-orang yang bersama mereka aku menghabiskan waktu. Orang-orang yang memberikan sentuhan pada hidupku. Orang-orang yang telah melakukan sesuatu untukku. Bagi mereka, tentunya aku istimewa. Atau setidaknya, aku memiliki arti. Dan bagiku, mereka pun demikian adanya. Mereka memiliki arti, istimewa dan penting bagiku. Seperti apapun adanya mereka.
Demikian juga orang-orang yang lalu lalang di jalanan itu, meskipun mereka bukan siapa-siapa di mataku, pastilah mereka adalah sosok-sosok istimewa dalam kehidupan orang-orang dekat mereka: keluarga, saudara, dan sahabat.
Maka aku teringat sebuah kisah dalam buku cerita anak "LITTLE PRINCE" tentang persahabatan Sang Pangeran Kecil dengan bunga mawar yang dirawatnya sejak kecil. Suatu hari, ia pergi mengembara dan meninggalkan bunga mawarnya di rumah. Di suatu tempat, ia menemukan kebun mawar yang berisi ribuan tanaman mawar yang membuatnya bersedih karena ternyata mawarnya sama saja dengan ribuan mawar di kebun itu. Bahkan mawar-mawar baru yang ditemuinya tampak jauh lebih indah.
Tapi kemudian, sahabat barunya memberinya tahu, bahwa bagaimana pun, mawarnya adalah lebih indah dari mawar-mawar itu. "Bunga mawarmu mungkin hanya salah satu dari sekian juta bunga mawar yang lain di dunia ini. Tapi bungamu sangat istimewa, unik dan sangat berharga bagimu karena kau telah menghabiskan waktu bersamanya, engkau menjinakkannya, engkau melakukan banyak hal untuknya. Maka kemudian engkau mencintainya. Seperti halnya sahabatmu hanya satu dari jutaan manusia di dunia ini, tapi, seperti apapun dia, dia yang terpenting bagimu. Waktu yang telah kau habiskan untuk sahabatmu lah, hal-hal yang kau lakukan untuk mereka lah yang membuat mereka istimewa bagimu."
Maka demikianlah, kebersamaan menumbuhkan ikatan emosi yang memberi warna dalam hidup kita. Hingga karena itu, kita merasakan keberartian diri di dunia ini. Keberartian yang akan memberi kita makna dalam hidup kita, dalam rangka ibadah kita kepada Sang Pencipta dan dalam menjadi wakil-Nya mengelola bumi ini.
Maka sangat dapat dimengerti, jika keberartian diri ini mewujud dalam dien-Nya. Menjadi perintah agama dan sunnah rasul-Nya. Bahwa seorang muslim yang paling baik adalah muslim yang paling baik pada keluarga dan kerabatnya. Bahwa seorang muslim yang baik hendaknya bersikap baik terhadap tetangga-tetangganya. Bahwa Allah sangat menghargai orang-orang yang mementingkan sahabat-sahabatnya di atas kepentingan dirinya sendiri. Bahwa rasul menyebut seorang laki-laki yang bukan dari kalangan sahabat sebagai seorang calon penghuni surga hanya karena dia menyimpan ketulusan terhadap orang-orang terdekatnya.
Maka, mengapakah kita tak menjaga baik-baik 'bunga-bunga mawar istimewa' kita? Sedang hanya pada mereka kita mendapatkan keberartian diri yang hakiki sekaligus pada mereka kita mendulang pahala amal dari Ilahi?

Maafkan dan lupakan !

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuat batu HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu ?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menulis diatas pasir.